CInta??

CInta yang berjuang
“Maaf Ayah ! ini yang Cinta janjikan…”

Cinta, sebuah nama yang kubanggakan, amanah agar aku menCintai Ayahku yang telah berjuang demi masa depan.Ayahku tipe orang yang rajin bekerja dan pantang menyerah meski tak tentu apa yang ia kerjakan eso hari Ayah selalu berkata: “Jangan khawatirkan hari esok!” kalimat itu juga menentramkan hatiku ketika Ibuku meninggal 3 tahun lalu dan menenangkan aku saat ku butuh biaya sekolah. Sekolah.Kadang aku tak paham sistemnya,apa hakekatnya dan mengapa seolah-olah dipersulit_ mengapa harus dengan uang,mengapa buku harus bayar,mengapa naik kelas harus bayar,mengapa utk pakai seragam harus bayar.Kenapa tidak gratis?!. Teman-temanku tak tau kalau aku pulang pergi kesekolah jalan kaki,1 jam perjalanan.Temanku tak tau kalau aku juga kerja di konveksi rumahan dan temanku tak tau kalau aku belum bayar SPP 6 bulan sebesar 150rb. Bagi yang belum melunasi SPP tidak dapat mengikuti ujian akhir (EBTANAS pada waktu itu).Itu peraturan yg tdk dpt diganggu gugat. “Nanda gw pijem uang 150rb,lo ada kan?” aku memohon. “Buat apa uang sebesar itu,mana aku ada”jawabnya. Aku sengaja tak memberi tau.Aku malu meski dia teman baikku. “Cinta kamu belum melunasi SPP selama 6bl.Ibu beri waktu 3 hari” kata Ibu wali kelas di depan teman-temanku. Suasana hening seketika,teman-temanku melihat kearahku,aku tertunduk diam.”ya Bu akan saya usahakan!”. Waktu berjalan,ujian tinggal 1 hari dan aku sdh berusaha pijam begitu juga Ayahku tapi nol.Nanda mendekatiku.”Cinta,kamu tetap harus ikut ujian akhir! kami mendukungmu”.”Kami,maksud lo? mana ada yang peduli ama gw?”. “ini dari kami(sambil menyodorkan uang) kan lo yang selalu bilang Jangan Khawatirkan Hari Esok!.Ini aku kumpulkan dari teman-teman” ucap Nanda. Aku langsung memeluknya.”Terima kasih Nanda dan teman-teman.Gue janji ga bakal ngecewain kalian,gue pasti dapat nilai kelulusan yg terbaik sebagaimana janji gue sam Ayahku.Ayah,Cinta akan berusaha tidak mengecewakan perjuangan Ayah.Perjuangan Ayah pasti membuahkan hasil!”. Keriput kulitnya,mata yg sayu tanda usia yg terus bertambah.Jalan yg tak lg tegap,kondisi fisik yg tak sesuai dg usianya mungkin beban dan lelah yg dipikulnya menjadikan fisiknya terlihat lebih tua.”Cinta hari ini tataplah dengan penuh harapan,hadapi ujian dg hati yg siap.Kamu bisa!” ucap ayah menyemangati. Soal-soal kukerjakan dg penuh ketelitian dan keyakinan hingga 3 hari kulewati.Usai sudah ujian tinggal menunggun pengumuman dan keperluan surat-suratnya. Malam yang gelap,udara dingin menyengat.Cuaca tak bersahabat suara batuk Ayah tak henti menambah haru hati.Aku mendekatinya. “Ayah baik-baik saja? Ayah perlu ke dokter?. “Ayah tidak apa-apa,Ayah hanya lelah,besok juga Ayah tak merasakannya lagi,beso juga Ayah akan kembali..!” balasnya. “Ya kalau merasa tidak apa-apa Cinta boleh kekamar dulu”.Aku kembali kekamar dan masih mencoba mencerna dua kalimat Ayah tadi. “Cinta,..Cintaa..,Cin….” Suara Ayah memangilku.Kudekati Ayah yg terbaring.Kusentuh tubuhnya dingin,matanya tak terpejam namu senyum kecil terbias.Aku takut,aku…Tolooong!!!.Tetangga yg mendengar langsung menghapiri.Menjumpai keadaan Ayah yg terbaring kaku mereka menyatakan_ Ayahku sudah meninggal dunia. Ayah tidak merasa sakit lagi Ayah telah kembali Pagi ini akhir pertemuanku dengan Ayahku dan awal kesendirianku.Semua teman-temanku datang termasuk Ibu Wali Kelas.Nanda menghampiri.”jika aku diposisimu aku juga akan seperti ini_menangis tapi Cinta yang kukenal adalah Cinta yang Optimis yang selalu bilang Jangan Khawatikan Hari Esok!. Ini dari kami JANGAN TANGISI HARI ESOK !.Tulisnya dalam selembar kertas yg disertakan pada surat pemberitahuan kelulusan.Aku lulus.Aku berhasil tapi kelulusan ini tak bernilai tanpa diketahui Ayah, tanpa adanya Ayah. Maaf Ayah ! ini yang Cinta janjikan. NB: Cerita diatas diangkat dari kisah nyata dengan penyesuaian dlm penulisan cerpen.Nama tokoh bukanlah nama sebenarnya.

Leave a Comment